|

Memberdayakan Kuliner Laut

Indramayu – Casripin (52), mantan nelayan yang kini beralih profesi menjadi perajin ikan, sibuk mengawasi anak buahnya yang sedang menjemur ikan kuniran di bawah terik matahari. Tak luput, lelaki yang telah bercucu ini memantau pekerja yang sedang membersihkan ikan kuniran dari kepala, ekor, isi perut, sampai tulangnya.

Sehari, Casripin bersama anggota kelompoknya mampu membersihkan dan mem-fillet 20 bakul ikan kuniran atau sekitar 600 kilogram ikan kuniran basah segar. Jika ditambah jenis ikan lainnya, seperti ikan pirik, buntek, koros, layur, dan selar, sehari dia bisa mengolah 30 bakul ikan. Semuanya di-fillet, dikeringkan, dan ada yang diasinkan.

mina-bahari-eretanCasripin atau yang akrab dipanggil Ipin merupakan bagian dari 30 kelompok fillet ikan kuniran di Desa Eretan Kulon, Kecamatan Eretan, Kabupaten Indramayu. Kelompok pem-fillet ikan kuniran sudah dua tahun terbentuk atau setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tahun 2005, yang membuat nelayan kalang kabut tak bisa melaut. Kebanyakan anggota kelompok adalah mantan nelayan dan juga istri-istri nelayan.

Sekretaris KUD Mina Bahari, sekaligus anggota Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Barat, Royani mengatakan, Sabtu (28/6), kelompok fillet kuniran di Eretan Kulon muncul untuk menyiasati impitan ekonomi saat harga BBM melambung. Sebab, pascakenaikan harga BBM, pendapatan nelayan turun drastis, dari rata-rata Rp 50.000 menjadi Rp 10.000 per hari.

Oleh karena itu, nelayan dan KUD mencoba mencari solusi agar bisa bertahan hidup dan memiliki penghasilan. Saat itu ada peluang. PT Lion Star Aquaculture (LSA), eksportir produk pertanian, sedang mencari ikan kuniran yang banyak dibutuhkan Malaysia. Tawaran itu pun diterima KUD. Setelah mempelajari standar produk dan kualitas yang dibutuhkan, ternyata produk mereka lebih bagus dibandingkan daerah lain, bahkan disetujui oleh produsen makanan olahan di Malaysia.

Sejak saat itu, nelayan dan istri mereka yang ingin mendapat penghasilan tambahan bergabung dalam kelompok fillet ikan kuniran. Namun, sebelumnya mereka dibekali teknik dan mengolah hasil fillet dengan benar dan higienis. Upah yang diterima istri-istri nelayan itu Rp 30.000 per hari atau Rp 1.000 untuk setiap kilogram ikan kuniran basah yang telah di-fillet dan dicuci bersih.

”Total, ada 400 orang lebih yang terlibat dalam industri fillet ikan kuniran di Eretan Kulon. Itu belum termasuk 20 orang yang bekerja di pabrik snack crispy ikan kuniran,” ujar Royani.

Dilihat dari harga jual, harga ikan kuniran semakin naik daun setelah ada kerja sama pem-fillet-an. Lebih-lebih setelah ada pabrik kudapan fillet kuniran. Dua tahun lalu, harga ikan kuniran basah di tempat pelelangan ikan (TPI) Eretan Kulon hanya Rp 30.000 per bakul (isi 30 kg tiap bakul). Kini, harganya berkisar Rp 115.000 per bakul, bahkan harga tertinggi mencapai Rp 140.000 per bakul.

”Ikan kuniran dulu (sebelum 2005) dianggap ikan yang tidak ada harganya. Cuma Rp 250 per kilogram. Tapi, setelah ada ekspor fillet ke Malaysia, harganya terus naik, dari Rp 750 menjadi Rp 1.250, lalu Rp 2.000 per kg. Sekarang harganya Rp 4.000 per kilogram,” kata Kepala Subdinas Kelautan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Indramayu Sutaryat.

Secara tak langsung, papar Sutaryat, tingginya harga ikan kuniran basah menyebabkan pendapatan nelayan meningkat. Nelayan menjadi lebih bersemangat melaut. Itu tampak dari makin meningkatnya angka produksi ikan laut di TPI Eretan Kulon. Selama Januari-Mei 2007, produksi ikan laut tercatat 2.616 ton, sedangkan tahun ini pada periode yang sama mencapai 4.700 ton. Rata-rata setiap hari produksi ikan laut di Eretan Kulon mencapai 27 ton.

Casripin menambahkan, dulu ikan kuniran hanya dijual sebagai ikan segar ataupun dibuat ikan asin. Setelah diolah, di-fillet, dan diasinkan, harga jual (kering) kepada bandar Rp 30.000 per kg. Namun, dengan keberadaan pabrik fillet ikan kuniran, harga kering terus naik menjadi Rp 50.000 per kg. Tak jarang ada bandar berani membeli fillet dengan harga Rp 70.000 per kg.

Limbah ikan

Royani mengakui, keberadaan pabrik makanan olahan fillet kuniran di Eretan Kulon telah memberdayakan nelayan dan keluarga nelayan, bahkan memberi keuntungan secara ekonomi. Namun, yang lebih penting, adanya pabrik telah memotivasi perajin ikan lebih memerhatikan standar pengolahan, mutu produk, dan tingkat higienitas produksi.

Sekarang perajin tak lagi mencuci ikan dengan air sungai, melainkan dengan air bersih. Bahkan, beberapa perajin mengolah limbah ikan menjadi bahan baku pakan ternak ikan. Demikian pula rempahan fillet ikan kuniran kering bisa jadi bahan pakan ikan yang mengandung protein tinggi.

”Sisa-sisa potongan ikan yang tidak digunakan diolah lagi untuk dijadikan pakan ternak ikan lele dan bandeng mengingat harga pakan ikan sekarang semakin mahal,” kata Royani.

Bagi KUD Mina Bahari, snack fillet ikan kuniran merupakan langkah awal untuk mulai membuat produk makanan olahan berbahan dasar ikan laut. Rencananya, 40 jenis makanan berbahan ikan laut akan dibuat KUD Mina Bahari, seperti dijadikan abon ikan, bakso, dan nugget ikan yang siap goreng.

Saat ini, nugget ikan dipasarkan melalui Rumah Makan Pesona Laut di Kecamatan Eretan. Produksinya baru 50 bungkus atau 12,5 kg per hari. Nugget itu pun sedang ditawarkan ke sekolah-sekolah di Jakarta untuk dijadikan bagian dari menu makan siang. ”Sasarannya adalah anak sekolah,” tambah Royani.

Memproduksi makanan olahan ikan laut tentu butuh tenaga kerja yang tidak sedikit. Sumber daya manusia (SDM) bisa saja berasal dari nelayan di sekitar atau tenaga terampil dari luar desa. SDM yang terampil, kata Royani, dapat diperoleh dari sekolah menengah kejuruan yang memiliki program studi teknologi pangan. Sisanya bisa mempekerjakan nelayan Eretan yang jumlahnya 5.000 orang lebih.

Sayangnya, kata Sutaryat, pengolahan makanan berbahan dasar ikan laut belum tergarap secara optimal di Indramayu, baik oleh nelayan maupun swasta. Masih banyak nelayan yang memilih mengolah ikan secara sederhana dan tidak mengedepankan kualitas produk. Selain itu, kemasan produk yang sudah ada kebanyakan belum layak masuk pasar modern sehingga pemasaran sangat terbatas.

Royani menambahkan, kemampuan dan penyerapan teknologi para nelayan juga sangat minim. Bahkan, banyak yang apatis terhadap kecanggihan teknologi sehingga tak mau mengubah pola produksi. Kendala klasik lainnya, nelayan butuh modal untuk memulai usaha. Karena itu, sangat dibutuhkan bantuan kredit dari perusahaan-perusahaan besar yang berbentuk program kemitraan.[Kompas]

Tags: ,

1 Response for “Memberdayakan Kuliner Laut”

  1. [...] bisnis kuliner didominasi oleh ikan hasil tangkapan dari laut, namun seiring perkembangan jaman dan munculnya keterampilan pencabutan duri pada ikan Bandeng. [...]

Leave a Reply

Premium WordPress Themes