Akhir Riwayat Noordin M Top

Buron terorisme nomor satu di Indonesia Noordin Mohamed Top tewas dalam pengepungan satuan polisi anti-terorisme di Jawa Tengah 17 September 2009. Aparat keamanan yakin, mantan akuntan kelahiran Malaysia itu mengatur beberapa serangan bom di beberapa tempat di Indonesia.
Noordin diyakini sebagai perekrut dan penggalang dana untuk kelompok militan muslim di kawasan Asia Tenggara, Jemaah Islamiah, namun para analis yakin dia membentuk kelompok sempalan yang lebih keras sendiri.
Aparat pemerintah Indonesia berhasil meredam serangan orang-orang militan sejak September 2005, yaitu pasca serangan bom Bali II yang menelan 23 korban jiwa.
Noordin diyakini tidak terlibat dalam serangan bom Bali 2002, kata beberapa analis.
Orang yang diduga menjadi sekutu akrab Noordin, ahli perakit bom Doktor Azahari Husin, yang juga asal Malaysia, yang tewas dalam pengepungan di Jawa Timur pada 2005.
Dua tokoh penting Jemaah Islamiyah dipenjarakan pada April 2008, sedangkan trio serangan bom Bali I dieksekusi bulan November tahun yang sama.
Namun, serangan bunuh diri terhadap dua hotel di Jakarta bulan Juli 2009, yang menelan 9 korban jiwa, termasuk dua tersangka pembom, memperbesar kekhawatiran bahwa kegiatan militan Nordin berlanjut.
Aparat anti-teror Indonesia menyatakan, ada “indikasi kuat” kelompok Noordin bertanggungjawab atas aksi tersebut.
Nama lain
Noordin melarikan diri ke Indonesia bersama Azahari Husin setelah pemerintah Malaysia menindak orang-orang militan muslim selepas serangan 11 September 2001 terhadap Amerika Serikat.
Begitu tiba di Indonesia, dia menikah dengan memakai nama alias Abdurrachman Aufi.
Istrinya, Munfiatun, dipenjarakan bulan Juni 2005 atas dakwaan menyembunyikan informasi mengenai keberadaan Noordin.
Noordin dan Azahari diduga bekerja sama untuk merencanakan serangan. Noordin diduga menjadi penggalang dana, sedangkan Azahari pembuat bom.
Di samping dua serangan bom Bali, kedua pria ini dinyatakan sebagai tersangka dalam dua serangan besar lain, serangan terhadap hotel JW Marriott Jakarta pada tahun 2003 yang menewaskan 12 orang, dan serangan terhadap kedutaan Australia pada 2004 yang menelan 11 korban jiwa.
Aparat keamanan akhirnya berhasil mengurung Azahari, yang pernah bekerja sebagai dosen dan meraih gelar doktor dari University of Reading, Inggris, di Jawa Timur pada November 2005.
Ayah dua anak ini tewas oleh peluru polisi atau bom yang dipicu oleh anak buahnya.
Namun, Noordin lolos dari jaring aparat.
Pada Januari 2006, polisi mengumumkan, dia menyatakan diri memimpin kelompok yang belum pernah diketahui sebelumnya, Tanzim Qaeda al-Jihad.
Para analis memperkirakan, Noordin telah menyempal dari stuktur utama Jemaah Islamiah akibat ketidaksefahaman mengenai serangan terhadap “soft target” yang sering menelan korban jiwa warga sipil.
Pada bulan April 2006, polisi menggerebek sebuah rumah di desa Binangun, Jawa Tengah, setelah ada laporan dia pernah tinggal di sana.
Dua tersangka militan anggota Jemaah Islamiah tewas dan dua lain ditahan dalam baku tembak pagi hari.
Bahan peledak ditemukan di dekat lokasi yang digerebek. Namun, Noordin tidak ada di sana.
Bulan Agustus 2009, aparat keamanan mengira mereka telah menewaskan Noordin dalam penggerebekan terhadap sebuah rumah di Temanggung, Jawa Tengah, namun uji DNA belakangan menyatakan, jasad di tempat itu bukan mayat Noordin.
Aparat keamanan menyatakan, mereka akhirnya menemukan orang yang mereka cari di pinggiran kota Solo, Jawa Tengah. Noordin M Top dikenali dari rekaman sidik jari, kata polisi.
Tiga tersangka militan juga terbunuh dalam penggerebekan di sebuah rumah sewa.
