Rindu Itu Selalu Ada
Ketika lebih dari 15 tahun yang lalu suasana Patrol yang masih kental dengan aroma ‘kedesaan’-nya menjadi sebuah kenangan. Lebar jalan pantura yang melintas Patrol tidak lebih dari setangahnya lebar jalan tersebut saat ini, masa-masa itulah yang selalu muncul setiap teringat akan ‘Mama dan Mimi’.
‘Mama’ merupakan sebutan ayah/bapak bagi masyarakat Indramayu, sedangkan ‘Mimi’ merupakan panggilan untuk ibu. Terdengar agak membingungkan memang jika kita membandingkan mama dan mimi dengan daerah lain, tapi itulah ciri yang membedakannya.
Mama merupakan orang yang keras, sedangkan Mimi lebih cenderung lembut namun memiliki emosi yang labil.
Pernah satu waktu Mimi bilang, “tadi malam mama datang” ungkapnya. Padahal mama sudah meninggal dua tahun sebelumnya. Jika sudah mengatakan demikian, yang ada dalam pikiranku hanyalah Patrol Indramayu dan segala aktivitas yang dulu pernah aku lakukan disana sebelum saat ini tinggal menetap jauh dari Patrol.
Setelah serngkali mengatakan bahwa mama semalam datang, akhirnya mimi menyusul hanya berselang dua tahun sesudahnya. Mungkin itulah yang akan terjadi apabila kita memiliki pasangan yang merupakan bagian dari tulang iga kita yang hilang.
Dimasa tua, mimi banyak bercerita tentangku semasa kecil. Bagaimana aku dulu pernah pingsan 7 kali dalam sehari saat masih berumur 40 harian, bagaimana aku tercebur sumur saat dimandikan oleh kakak, atau bagaimana lintah sebesar telunjuk hidup dalam hidungku dan adikku. Hingga akhirnya mimi menyusul mama.
Kedua nisan itu saat ini sudah mulai miring karena kayunya sudah agak lapuk. Terakhir kutengok nisan itu ketila lebaran kemarin. Dua buah nisan yang sampai saat ini entah kenapa aku tidak mampu menyebut penghuninya sebagai ‘almarhum’, aku masih menyebutnya ‘mama dan mimi’. Mungkin bagiku mereka masih tetap hidup dalam setiap aliran darah dan desahan nafasku.
Rindu akan kampung halaman terkadang menyiksa kita.


