|

Indonesia Tuan Rumah Piala Dunia 2022 ?

Saya penikmat pertandingan bola, tetapi bukan penggemar atau pemerhati sepak bola. Jadi, jangankan tahu peta sepak bola dunia, nama-nama pemain top pun banyak tidak tahu.

Saya pun tidak begitu mengikuti perkembangan dunia sepak bola tanah air, jadi tidak tahu banyak sejauhmana sistem persepakbolaan kita dikelola. Yang saya tahu, selama 65 tahun merdeka, kita belum pernah sekalipun lolos ke piala dunia. Karena itu kening saya berkerut, melihat beberapa media publikasi yang menyatakan keinginan kita untuk menjadi tuan rumah piala dunia 2022 (gbr di samping dari sini). Beberapa sumber menyebutkan kita telah dicoret sebagai calon tuan rumah piala dunia 2018 dan 2022, tetapi sebagian dari kita tampaknya masih berupaya memperjuangkannya. Spanduk-spanduk yang mempromosikan ide itu juga masih terpasang.

Saya sendiri masih belum yakin, kalau pun nanti FIFA meralat keputusannya dan memberikan kesempatan kepada kita untuk menjadi tuan rumah piala dunia 2022, kita akan mampu. Berikut ini beberapa hal yang jadi pertimbangan saya.

Pertama, apa kita bisa menjamin, dari tahun 2010 hingga mendekati 2022, tidak ada bom meledak lagi? Masih ingat kasus “penyambutan” kedatangan MU ke tanah air? Semua berantakan, bahkan ketika tiket sudah habis terjual. Saya tidak tahu, apakah nanti kalau kita sudah ditetapkan menjadi tuan rumah oleh FIFA, terus ada bom meledak dan even akbar itu batal, Indonesia kena sanksi? Kalau pun tidak ada sanksi, mau ditaro di mana muka bangsa kita nanti?

Ke dua, banyak yang memprediksi bahwa dalam beberapa tahun ke depan, Jakarta akan macet total. Tentu itu terjadi jika tidak ada upaya radikal untuk mengatasinya. Tanpa ada arus masuk turis pun, Jakarta sudah macet bukan main. Lalu, bagaimana jika dalam waktu singkat, manusia dari berbagai belahan dunia tumpah ruah di Jakarta? Siapkah Jakarta dengan transportasi massal yang ramah dan manusiawi? Bagaimana juga kesiapan Surabaya, Bandung, atau Palembang?

Ke tiga, ini barangkali yang sangat merisaukan, bisakah para supporter tanah air menghormati tamunya dengan santun? Kita tahu bahwa beberapa tahun belakangan ini, para supporter sepak bola tanah air kerap bikin ricuh, bahkan dengan masyarakat sekitar. Jika dengan sesama anak bangsa saja demikian, lalu bagaimana dengan orang asing? Akan “selamat” kah mereka selama menonton sepakbola di Senayan, Jalak Harupat atau Jaka Baring? Jika selama dua belas tahun ke depan para supporter ini tidak juga berproses menjadi dewasa, bukan saja percuma, tetapi akan sangat berbahaya jika kita menjadi tuan rumah piala dunia 2022.

Ke empat, apa kabar dengan kemampuan para pemain kita? Saya tahu, selama 12 tahun ke depan, kita bisa membina para tunas-tunas muda kita. Tetapi apa yang sudah kita lakukan saat ini? Jika pola pembinaan instan yang kita terapkan selama ini terus bertahan, saya cukup pesimis akan memberikan hasil, meskipun hingga 2030.

Mengirim pesepak bola ke luar negeri penting, tetapi jauh dari cukup. Dibutuhkan sistem sepak bola nasional yang benar-benar kompetitif dan berkualitas, bukan saja untuk menempa skill permainan, tetapi juga mental “world class” dalam bertanding.

Ke lima, saya membaca satu media iklan yang menyatakan bahwa piala dunia tahun 2022 adalah “hadiah” dari Pak SBY untuk rakyat Indonesia. Menjadi jelas buat saya, bahwa motif dari keinginan besar itu ada bau politiknya.

Saya bukan tidak yakin bahwa kita bisa, tetapi realitas saat ini berbicara keras sekali ke telinga saya, bahwa kita belum siap. Belum ada tanda-tanda perbaikan manajemen sepak bola nasional. Belum ada tanda-tanda perbaikan infrastruktur dan manajemen transportasi massal kita. Belum ada tanda-tanda bahwa kita mampu mengerem laju pertumbuhan kendaraan yang memacetkan Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Belum ada tanda-tanda peningkatan kualitas pemain nasional kita, bahkan saya melihatnya ada kemunduran di banding era 1980-an, atau bahkan era 1938.

Belum ada tanda-tanda supporter sepak bola nasional kita membaik. Juga belum ada tanda-tanda bahwa Indonesia bebas dari bom.

Saya hanya percaya, bahwa dengan menjadi piala tuan rumah piala dunia 2022, stadion dan jalan-jalan menuju stadion akan bagus. Aspalnya akan bagus, taman-taman di sepanjang jalan itu juga akan bagus. Pedagang kaki lima bersih, setidaknya sesaat sebelum dan sesudah even piala dunia 2022. Saya sudah melihatnya dari beberapa tempat.

Tol Cipularang dibangun menjelang KAA di Bandung. Jalan-jalan di Bandung pun mendadak jadi bagus. Palembang pun sama, menjadi agak bagus setelah menjadi tuan rumah PON. Begitu juga dengan Manado, infrastruktur dibangun menjelang konferensi internasional kelautan di sana.

Karena itu saya yakin, dengan menjadi tuan rumah piala dunia, beberapa kota di Indonesia akan menjadi sedikit bagus. Itulah tabiat kita: berbenah hanya jika dipaksa oleh keadaan

Tags:

Leave a Reply

WordPress