|

Latahnya Budayaku

Upzzz bukannya mau mengkritik tanpa dasar nih, tapi ini hanya luapan emosional tanpa amarah dari saya saja dan saya harap anda mengerti dan maklum adanya .

Bukan, tulisan ini gak mengurai dan menelaah kenapa mpok atik latah tapi ini masalah yang lebih besar dari itu bung (koq dibanding-bandingin ama mpok atik yah??? saya aja bingung koq ).

Ya ini menyoal problematika budaya yang cukup serius nan lucu tapi asyik juga sih hehehe. Apalagi kalau bukan sifat konsumtif bangsa ini (termasuk saya juga sih mungkin) .

Di negara entah berantah nan raksasa di benua sana,  orang menggunakan salah satu alat itu untuk membantu meringankan pekerjaannya alias menggunakan produk sesuai fungsi dan kapasitasnya, jadi contohnya  jika orang mempunyai handphone yang mempunyai fasilitas canggih serta mutakhir pasti orang tersebut mempunya aktifitas yang harus ditunjang oleh barang-barang tersebut jika tidak mau ketinggalan dalam orientasi kerjanya bukan image atau gengsi semata kawan .

Nah sebetulnya dinegara ane juga seperti itu, alias menggunakan sesuatu sesuai fungsinya tapi itu hanya sebatas orang-orang yang mempunyai jiwa konsumtif yang cenderung menganut asas manfaat berbeda dengan salah satu kawan saya (maaf ya sob lu dijadiin objek tapi moga lu dapet ilmunya juga ya… ) yang cenderung menganut asas konsumsi yang  mencapai stadium lanjut yakni gengsi kalau gak memiliki sesuatu brand tanpa diiringi manfaatnya.

Lanjut tentang objek baru gue (kawanku itu )…..
Ya dia hanya memikirkan produk berdasarkan brand atau image yang bagus dan itu saya akui juga kalau gak salah karena menyangkut HAM  serta kalau punya duitnya kan gak apa-apa dong beli semua isi dunia juga (ahh ngawur nih), kembali pada bahasan gue tadi terkait konsumtif  yang melulu image dan gengsi  sebenarnya tidak bermasalah tapi ini juga berkaitan dengan moral. Lah ia orang sedang kesulitan koq dia menghambur-hamburkan tanpa memikirkan tepat guna-dan daya gunanya ( mode orator heheheh).

Back to reff….

(sorry gue inget lagu nih ).

Ya kembali pada temen gue itu, dia ingin membeli sesuatu barang yang mungkin hanya beberapa fitur yang berguna bagi menunjang aktifitasnya sedangkan barang itu mempunyai seabrek keunggulan yang kalau gue fikir sih rugi kalau gak digunakan sebagaimana mestinya heheh orang butuhnya 5 watt koq dia beli yang 250 watt kan berat di listrik heheheh

Maaf nih bukannya gue iri atau bermaksud tendensius tapi ini juga untuk mengurangi keborosan yang melanda dalam diri gue syukur-syukur anda juga bisa demikian hehehehe .

Oke deh kita lanjut posting berikutnya yang gak kalah emosinya ama yang ini (xixixixixi maksudnya gak kalah jeleknya )

Tags:

5 Responses for “Latahnya Budayaku”

  1. Hi there. That’s just some very nice blog. I like it a lot and will come here more frequently from now on. I am studying for a term paper and the information here has helped me a lot Custom Essays

  2. myu says:

    Membeli berdasarkan kebutuhan bukan keinginan. Tapi klo mampu silahkan saja…..sah-sah saja…..he..2.
    istilah populernya itu budaya massa…….atau sikap hehonisme….(lagi2 saya harus mengulang dua kata itu,,,wkwkwkk)

  3. Adhi says:

    Yoyoy….! Makanya aku pake N6600-ku tercinta, meski 300rb dapet, tp fiturnya boleh juga (walahh…., barange mah bli bisa tuku hp anyar, hee…..). I Love you pull, indramayu!

  4. Adhi says:

    Yoyoy….! Makanya aku pake N6600-ku tercinta, meski 300rb dapet, tp fiturnya boleh juga (walahh…., barange mah bli bisa tuku hp anyar, hee…..). I Love my you pull, indramayu!

  5. asepsaiba says:

    Pertamaxx nambah larang.. wis diamanaken maning…

    Wah, kang Atha wis dadi wong Betawi rupane mah.. Ati2 aja sampe klalen basa dermayon ya kang… :D

    Mubazir adalah salah satu perbuatan yang dibenci Allah.. So, belilah sesuatu sesuai manfaatnya saj.. Gitu kali ya?

Leave a Reply

Free WordPress Theme