|

Honorer

Bekerja menjadi pegawai negeri sipil adalah impian hampir sebagian orang walaupun hanya memperoleh gaji kecil, terutama bagi sarjana-sarjana pengangguran. Ada orang yang berlasan menjadi pegawai negeri sipil dikarenakan jam kerjanya yang sedikit dan santai. Ada pula orang yang beralasan menjadi pegawai negeri sipil agar di mata masyarakat memiliki status sosial yang lumayan di hormati. Namun, ada pula yang beralasan menjadi pegawai negeri sipil dikarenakan aman tidak mungkin terkena PHK sehingga akan memperoleh uang pensiunan di hari tua. Kira-kira seperti itulah alasan sebagian besar orang yang ingin bekerja sebagai pegawai negeri sipil.

Di zaman sekarang menjadi pegawai negeri sipil, bukanlah suatu hal yang mudah. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. Selain harus mengikuti serangkain seleksi administratif juga diharuskan mengikuti tes tulis, psikotes dan wawancara. Belum lagi formasi yang ditawarkan biasanya hanya beberapa orang yang dibutukan, bahkan lebih kejam lagi hanya satu orang untuk setiap jurusan. Kesulitan lain yang menghadang biasanya ditambah jumlah peserta tes yang bejibun. Beberapa kesulitan itu, belum ditambah banyaknya titipan-titipan anak maupun saudara dari para pejabat yang memiliki banyak uang. Sehingga semakin bertambah sulitlah untuk menjadi seorang pegawai negeri sipil.

Namun dibalik semua itu, berbeda dengan temanku yang satu ini. Temanku adalah salah orang yang beruntung menjadi pegawai negeri sipil bukan karena tes, juga bukan karena uang melainkan karena era pemerintahan Kabinet Inonesia Bersatu, dimana pemberlakukan pegawai honorer minimal lima tahun, dapat dilayak diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Sungguh sebuah keberuntungan bagi temanku Warso kala itu jika dibandingkan teman-teman sekantornya yang lebih lama menjdi pegawai honorer, namun tidak terangkat menjadi pegawai negeri sipil dikarenakan salah satu peraturan yang membatasi usia tidak lebih dari 46 tahun.

Kurang lebih sekitar enam tahunan, temanku Warso menjadi pegawai honorer di instansi yang terkenal dengan lahan basahnya. Ia seorang sarjana yang memliki segudang potensi dalam hal pekerjaan. Untuk masalah disiplin, Warso adalah orang yang paling tepat apabila dijadikan contoh pegawai teladan. Betapa tidak, selama 6 enam tahun itu, apel pagi yang setiap hari dilakukan pukul 07.00 pagi, Warso akan selalu hadir setengah jam sebelum apel dimulai. Kedisplinan Warso tidak diragukan lagi, membuat decak kagum pegawai lainya kala itu. Bahkan seringkali Warso mendapat pujian dari atasanya Pak Wardiman, ketika menjadi pembina apel pagi.

“Bapak dan ibu yang saya hormati. Sebagai abdi negara, kita harus menjunjung tinggi disiplin kerja. Apel setiap pagi harus kita lakukan, tidak boleh terlambat. Kita harus meniru Pak Warso, walaupun dia hanya berstatus pegawai honorer akan tetapi Pak Warso ini sangat disiplin. Pak Warso selalu datang ke kantor tidak pernah terlambat. Selalu tepat waktu. Kita harus malu kepada pak Warso apabila masih saja terlambat. Apalagi bapak dan ibu sudah lama menjadi pegawai negeri sipil. Kita ini digaji oleh uang rakyat, maka sudah selayaknya kita harus bekerja secara professional. Menjadi seorang pegawai negeri sipil adalah kewajiban kita untuk selalu berinstrospeksi, sejauh mana pekerjaan yang telah kita lakukan. Semuanya harus ada tolak ukurnya dan jangan lupa evaluasi setiap hari perlu dilakukan agar ke depan dapat diperbaiki dan ditingkatkan program-program kerja yang masih belum rampung. Pak Warso ini merupakan salah satu contoh pegawai yang termasuk bagus dalam bekerja. Beliau ini, rajin, berdedikasi dan bertanggung jawab penuh atas pekerjaannya,” kata kepala dinas Warso kepada seluruh peserta apel pagi yang hanya dihadiri oleh setengah pegawai dari semua jumlah pegawai keseluruhan. Sedangkan peserta apel hanya diam serius mendengarkan atasannya ketika memberikan amanat.

***

Semenjak diberlakukannya peraturan baru tentang pengangkatan pegawai honorer menjadi calon pegawai negeri sipil, sejak saat itulah institusi daerah yang menangani ribuan pegawai ini selalu dipadati oleh para pegawai honorer. Dari mulai pegawai honorer yang hanya mencari informasi sampai para pegwai honorer yang akan meyerahkan berkas-berkas sebagai persyaratan untuk menjadi calon pegawai negeri sipil. Kendati pengumpulan berkas-berkas sangat melelahkan, muka-muka pegawai honorer yang berada di institusi personalia pemerintah itu tampak sumeringah, akan tetapi itu semuanya tidak mengapa, toh mereka semuanya semangat demi mencapai pekerjaan menjadi abdi negara. Terlebih bagi mereka yang sudah puluhan tahun menjadi pegawai honorer, semangat untuk diangkat menjadi pegawai negeri sipil dapat terlihat melalui sikap mereka yang cenderung menurut terhadap pegawai yang menangani berkasnya. Sesekali pegawai yang menangani berkas itu, membisikan omongan yang mirip seperti tawon. Keras namun tidak jelas apa yang dikatakan.

“Maaf pak, administrasinya seikhlasnya saja,” celoteh dari salah satu pegawai yang menangani berkas-berkas para pegawai honorer sambil menyodorkan kotak yang kardus yang sudah penuh dengan tumpukan uang puluhan ribuan.

“Kenapa pak?,”

“Untuk adminstrasi pak seikhlasnya,” jawab sang pegawai personalia pemerintah itu, mengulangi perkataanya agak malu-malu.

“Oh, iya pak,” sahut dari salah satu pegawai honorer yang sedang mendapat giliran untuk mengumpulkan berkas-berkasnya.

Kini tiba giliran Warso. Sambil membawa bekas-berkas dalam map, Warso berjalan memasuki ruangan yang sudah dipenuhi dengan empat meja dan para pegawai yang menanganinya. Tanpa pikir panjang, Warso langung menuju meja pegawai yang kosong namun dipenuhi dengan tumpukan berkas-berkas hingga mencapai 30 cm.

“Silahkan duduk. Sebentar saya periksa dulu ya pak berkasnya. Barangkali masih ada yang kurang. ”

“Ya pak.”Jawab Warso sambil melirik dan memperhatikan di meja sebelah kanannya. Tampak anak muda bersama orang tua yang sedang serius melakukan pembicaraan. Samar-samar terdengar dari omongan pegawai itu.

“Bisa pak, bisa. Nanti biar bapak saya kenalkan dengan kepala bagian saya. Barangkali bisa membantu,”
“Bener lho pak, bisa kan? Seandainya berhasil nanti bapak juga mendapat bagian”
“Yak pak, nanti saya usahakan. Nama anak bapak siapa?”
“Marzuki, bekerja di dinas urusan penduduk miskin ,memang bukan pegawai honor, masih sukwan. Tapi uda empat tahunan. Sayang kan pak kalau tidak perjuangkan”
“Iya, iya pak,”
“Ini buat beli rokok bapak”
“Ya, pak terima kasih,” jawab sang pegawai tersenyum lebar sambil menerima amplop putih berukuran sedang.

Warso hanya diam. Tertegun sekaligus ada rasa miris dalam hatinya. Seandainya semua pegawai sukwan seperti itu, rasa-rasanya banyak pegwai honorer yang sudah lama bekerja tidak mendapatkan jatah untuk diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Ah, paling tidak, hal itu tidak menimpaku, pikir Warso.

Warso merasa lebih beruntung bekerja dikantornya yang sekarang karena selain mendapat dukungan dari Pak Wardiman sebagai kepala dinasnya, juga mendapat dukungan penuh dari bapaknya yang mantan pejabat berpengaruh di daerahnya. Oleh sabab itu, tidak aneh memang kalau ketika selepas kuliah, Warso langsung mendapatkan tempat kerja yang sudah dipersiapkan oleh hasil lobi-lobi bapaknya, walaupun hanya berstatus pegwai honorer. Akan tetapi, lebih beruntung lagi, ketika Warso bekerja di instansi pemerintah itu, Warso langsung berstatus honorer dibanding teman-teman lainya yang hanya berstatus pegawai sukwan. Ini artinya dalam hal penghasilan menjadi pegawai sukwan tentu saja tidak menentu karena diperoleh dari alokasi penyisihan anggaran siluman. Berbeda dengan pegawai honorer, selain ada kesempatan menjadi pegawai negeri sipil juga penghasilan yang didapatkan tentu saja sudah dianggarkan dari pemerintah daerah. Alhasil, menjadi pegawai honorer lebih beruntung ketimbang menjadi pegawai sukwan yang tidak jelas juntrungannya. Menjadi pegawai sukwan tentu saja harus dibarengi dengan rasa ikhlas yang mendalam. Tanpa rasa ini, hanya akan ada mengeluh dan mengeluh. Menjadi pegawai honorer sedikit lebih beruntung dibanding sukwan. Rasa keikhlasan hanya separoh dari pegawai sukwan. Lain halnya menjadi calon pegawai negeri sipil, sedikit lebih tinggi dari pegawai sukwan dan honorer. Akan tetapi, kalau ingin dinilai baik dan bagus, maka selama setahun harus mempunyai kinerja dan disiplin tinggi. Dengan hilangnya kata ‘Calon’, maka tingkatan teratas jatuh pada pegawai negeri sipil yang benar-benar pegawai.

***

Selang tiga bulan menungggu akhirnya Warso telah resmi diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil belum pegawai negeri sipil. Warso harus menunggu selama satu tahun lagi untuk menjadi benar-benar pegawai negeri sipil. Untuk itu, dengan meningkatnnya status Warso menjadi ‘Calon’, maka kedisplinan dan kinerja Warso pun semakin meningkat. Dari yang biasanya datang ke kantor setengah jam sebelum di mulai apel pagi, kini satu jam sebelumnya Warso sudah sampai di kantor. Pekerjaan Warsopun tidak kalah menarik, dari pekerjaan yang dikerjakan hanya tugas da wewenangnya saja, kini mulai merambah ke pekerjaan milik teman-teman kantornya. Teman-teman kantor bertambah kagum. Betapa kedepan Warso akan menjadi pegawai yang mempunyai masa depan cemerlang. Selama satahun itulah Warso menjadi buah bibir para teman-teman kantornya, bahwa Warso benar-benar pegawai energik, lincah, dan aktif.

Setahun berlalu Sekarang Warso bukan lagi seorang calon pegawai negeri sipil . Statusnya telah berubah menjadi pegawai yang tidak lagi seperti tanaman eceng gondok. Tidak mempunyai akar dan mudah dicabut. Kini Warso menjadi pegawai layaknya tanaman beringin yang berkar kuat, tidak tergoyahkan. Warso sumeringah dan sebagai tanda rasa syukur, Warso berancana akan mengajak semua teman-teman kantornya untuk makan-makan bersama. Satu-satu teman Warso mulai banyak mengucapkan selamat. Setiap bertemu dengan teman kantornya, saat itu juga ucapan selamat akan terlontar.

“Selamat ya Warso, akhirnya SK-nya keluar juga. Karirmu pasti bagus. Soalnya kamu pegawai yang rajin dan displin ”, kata salah satu teman kantornya sambil menyalami tangan Warso.

“Ya, terima kasih pak Budi,” jawab Warso menimpali.

Kini Warso benar-benar merasakan menjadi seorang pegawai tulen, bukan pegawai yang rendah diri karena masih berstatus calon pegawai. Pegawai yang mempunyai kekuatan untuk melawan, bukan pegawai yang penurut selama ini. Pegawai yang mempunyai posisi tawar, bukan pegawai bawahan tanpa harga. Warso benar-benar telah memiliki kekuatan baru dan tidak ada ketakutan lagi akan dipecat karena kalau sudah mempunyai status pegwai negeri, paling tidak pemecatan akan jauh lebih sulit dan untuk itu perlu dengan banyak alasan serta tentu saja memerlukan proses yang lama. Warso optimis dengan menjadi dengan status kepegawaiannya yang berubah, masa depan karirnya akan mulus, seperti apa yang dikatakan teman-temannya.

***

Sudah seminggu ini Warso, mulai agak terlambat datang ke kantor. Pak Wardiman, masih memberikan toleransi. Mungkin Warso ada kendala-kendala dalam perjalanan menuju kantor, pikir pak Wardiman. Pekerjaan Warso-pun kini mulai banyak yang terbengkalai, namun lagi-lagi Pak Wardiman masih tetap berpikir positif, mungkin dikarenakan memang ada halangan-halangan yang menghambatnya. Seminggu berjalan, sebulan, hingga berbulan-bulan bahkan sudah setengah tahun, Warsopun berangkat semakin kesiangan. Pak Wardiman mulai tak sabar. Dipanggailnya Warso untuk menghadap atasannya.

“Pak Warso, mengapa bapak akhir-akhir ini jarang mengikuti apel pagi?,” tanya pak Wardiman.
“Maaf pak. Saya terlambat karena banyak urusan’” jawab Warso tanpa rasa bersalah.

Pak Wardiman kehilangan kesabarannya. Dengan muka memerah memarahai Warso.

“Pak Warso, anda ini kan pegawai teladan. Semua orang-orang kantor disini kan tahu. Masa gara-gara urusan di luar kantor, pekerjaan kantor disampingkan,”

Warso hanya diam. Dia tidak mempedulikan omongan atasannnya. Lalu ia pun keluar ruangan tanpa menghiraukan atasannya yang marah-marah. Semantara pak Wardiman kesal. Mukanya memerah. Ia merasa menyesal mendukung Warso menjadi pegawai negeri sipil kala itu. Pak Wardiman merasa berdosa, harusnya Warso tetap menjadi pegawai honorer agar tetap rajin bukan pegawai negeri sipil karena Pak Wardiman yakin masih banyak lainya yang lebih baik daripada Warso. Tapi, apalah daya nasi sudah menjadi bubur.

Ditulis di blog http://myucomputer.blogspot.com/

Tags:

4 Responses for “Honorer”

  1. Hi there. That’s just some very nice blog. I like it a lot and will come here more frequently from now on. I am studying for a term paper and the information here has helped me a lot Ideas for Writing an Essay

  2. dyna says:

    Memang sangat menyayat hati menjadi pegawai honorer terutama di SMP Terbuka,Pemerintah hanya memberi Mereka Honor maksimal 150Rb sebulan tanpa konpensasi apapun dr pihak sekolah dg wkt kerja 6hari seminggu sehingga 24hari kerja dlm sebulan.SMP Terbuka juga mendapatkan Tunjangan Fungsional dr Pemerintah 200Rb perbulannya tapi Sayangnya…Dikdas JAKUT tidak mengeluarkan Uang Mereka selama 6bln dari Januari2010 s/d Juni2010.Entahlah Dikemanakan Uang mereka,dikali sekian ribu orang..,Kita semua th kalau uang sdh dikeluarkan Pemerintah maka tidak akan kembali ke Kas Negara.Lengkaplah sudah penderitaan guru honorer di SMP Terbuka,dg Tim Guru Lulusan Sarjana, Pemerintah hanya bisa menghargai mereka maksimal 150Rb perbulan yg terkadang mereka terima tiap 3bln sekali atau bahkan lebih,sedangkan Mereka sama sama ikut mencerdaskan anak bangsa…

  3. Ana Rohdiana says:

    Saya juga pernah jadi pegawai honorer tepatnya GBS alias guru bantu. Alhamdulilah saya sudah menjadi PNS sejak 2007. Begitu juga rekan-rekan saya.

  4. baskara says:

    kopok itu………………..

Leave a Reply

Free WordPress Theme