Empat Point Penting Agar Bisa Menulis
Seringkali kita menemukan dikalangan pelajar yang masih alergi dengan aktivitas menulis. Aktivitas menulis juga kerapkali menjadi momok yang menakutkan bagi para mahasiswa menjelang kelulusannya yang harus diwajibkan dikala harus menulis skripsi. Dua fenomena itu paling tidak menjadi sedikit gambaran betapa generasi tunas bangsa kita masih rapuh dalam hal dunia tulis-menulis. Saya tidak akan menjelaskan penyebab mereka mengapa bisa demikian karena tentu saja ini diperlukan data-data dan penelitian yang komprehensif serta berkelanjutan akan hal tersebut. Seperti biasa saya hanya akan bercerita berdasarkan pengalaman empiris saya tentang aktivitas menulis, bukan fenomena orang lain seperti dikalangan pelajar dan mahasiswa itu.
Di blog ini saya pernah menulis bahwa dahulu setelah kegagalan mendaftar Akmil, saya adalah orang yang hanya bercita-cita ingin menjadi wartawan. Ya, seorang yang pandai dan lihai dalam aktivitas merangkai kata. Namun, kenyataan hidup menampik lain. Kini saya hidup menjadi seorang pustakawan, sama di-akhiran berbeda di kata dasar (pustaka-warta/WAN). Namun, yang jelas dari kedua pekerjaan itu, keduanya dekat dengan aktivitas menulis. Oleh sebab itu, saya menikmati pekerjaan sebagai pustakawan, terlebih hal ini akan memudahkan saya ketika membutuhkan banyak referensi dalam menulis karena tentu saja semuanya ada di perpustakaan sebagai tempat kerja saya.
Proses menulis adalah proses berkontemplasi. Dia harus berani menyendiri dan selalu berpikir, meneyelami dan menggali informasi yang detail hingga menjadi kesatuan kalimat dan paragraf sehingga terbentuklah sebuah pemikiran dari sang penulis itu. Ini tidaklah mudah, namun setiap individu pada dasarnya punya kesempatan untuk hal itu (menjadi seorang penulis). Dengan demikian, perlu sebuah keterbiasaan yang perlu diasah apabila dalam aktivitas menulis mencapai pada tahap itu. Inilah yang membuka pikiran saya, bahwa kata-kata bijak dari Aristoteles:” Bisa itu karena terbiasa,” betapa benar adanya. Bukan karena bakat melainkan karena minat dan usaha yang dilakukan terus menerus.
Point kedua adalah banyak-banyak membaca adalah mutlak. Apa yang harus di baca? apa saja misalnya buku, majalah, koran, jurnal, tulisan di internet dan lain sebagainya. Saya jadi teringat entah perkataan siapa (saya lupa judul bukunya) bahwa “Tidak ada di dunia ini dalam hal menulis dia tidak memanfaatkan referensi sebagai bahan bacaanya termasuk seorang professor sekalipun kecuali kalau dia adalah seorang yang sombong dan benar-benar genius atau kalau memang ada dia biasanya pengkhayal kelas berat.” Dengan membaca, otomatis paradigma berpikir kita menjadi luas. Cara berpikirpun menjadi holistik. Tidak hanya itu, perbendaharaan katapun akan semakin bertambah sehingga proses aktivitas menulispun akan semakin mudah pula. Sebagai informasi anda juga dapat membaca buku-buku yang berkaitan dengan dunia menulis seperti koleksi buku yang di tulis Hernowo diantaranya Mengikat Makna, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, Quantum Writing : Cara Cepat nan Bermanfaat untuk Merangsang Munculnya Potensi Menulis, Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Membuat Buku, Langkah Mudah Membuat Buku yang Menggugah dan koleksi-koleksi lainya. Kemudian Mengarang Itu Gampang yang di tulis oleh Arswendo Atmowiloto, Menulis Dengan Emosi karangan Carmel Bird, Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang karangan Andreas Hariefa, Ketika Diam Bukan Emas : Berbicara dan Menulis Sebagai Terapi karangan James W. Pennebeker.
Point selanjutnya adalah percaya diri. Jangankan bagi orang-orang yang baru menekuni aktivitas menulis, terkadang bagi orang-orang yang sudah terbiasa menulispun, sikap percaya diri harus dipupuk agar terus semangat. Berani menulis berarti siap-siap untuk di puji, di kritik, bahkan di caci maki. Sudah siapkah anda dengan point yang ketiga ini?
Point keempat mulailah dari sekarang untuk mencoba menulis. Jangan hanya membaca tulisan yang singkat ini. Berlatihlah menulis dari sekarang secara berkala mislanya di dunia blog. Karena dunia blog adalah dunianya orang berkomunikasi melalui tulisan. Di dalamnya terdapat umpan balik (feedback) antara komunikator (blogger) dan komunikan (reader blogger).
terima kasih, ok. saya kira banyak pelajaran berharga… dari anda.. salam sing reang..