|

Maaf, Papa Kena PHK

“Pa, seminggu lagi kan lebaran. Kapan kita beli baju baru,”

“Iya Bu, Papa sudah memikirkannya kok. Nanti kalau ada waktu kita pergi belanja sama-sama”, jawabku pada istri tercinta walau ia sering buat jengkel.

“Kalau ada waktu? Emangnya Papa sudah punya uang? Kenapa tidak pagi tadi saja, kan Bapak libur. Kasihan anak-anak”, balas istriku, Arini.

Kasihan sama anak-anak, omong kosong. Aku tahu dia sendirilah yang sampai sekarang masih doyan shoping. Tabiat buruk yang ia tularkan pada anak kami, ironis, gumamku dalam hati.

“Tenang saja Bu, Insya Allah nanti juga kita bisa belanja.”

“Insya Allah. Tapi kapan Pa, kapan? Wong lebaran sudah seminggu lagi, uang buat belanja hari lebaran juga belum Bapak kasih”, kata istriku dengan sifat aslinya, ketus, judes. Bawaan keluarga besarnya yang pongah. Keluarga yang doyan materi.

Ketika keadaan seperti ini, aku baru sadar, aku menikahi gadis yang salah. Andai dulu aku menuruti pada orang tua, jika saja waktu itu aku tidak terbius kecantikan rupa, mungkin kehidupanku akan lebih baik. Tapi apa mau dikata, aku terlanjur mencintai dia walau Arini terkadang masih memandangku sebelah mata, pandangan yang menomorsatukan harta dan tahta.

“Bu, sudah malam. Istirahat yuk, soalnya besok Papa harus keluar kota, ada tugas perusahaan”, kilahku.
“Lho, kok mendadak sih Pak. Enggak seperti biasa. Rencananya nanti berapa hari Pak?” selidik istriku yang memang cerewet. Apalagi setelah kelahiran anak ketiga kami, bukannya berubah, malah makin menjadi.

“Belum tahu Bu, karena pihak perusahaan belum ngasih kejelasan.”
Dari balik gorden yang sempit langit terlihat gelap, tanpa hiasan rembulan. Malam yang suram, sesuram hati dan pikiran Warmidinata, pegawai yang bulan lalu masih menjadi orang kepercayaan perusahaan. Sekalut jiwa dan perasaan seorang kepala rumah tangga, ia tidak rela harus kehilangan keluarga bila mereka mengetahui statusnya di perusahaan.

Mentari sudah bercokol di jidat langit, indah. Menggusur tahta embun pada batang-batang daun. Menemani sajak-sajak Kutilang yang terdengar kian merdu dari teras rumah sederhana, kediaman Warmidinata, tempatnya mencoba menjadi yang terbaik bagi mereka.

“Anak-anak, Papa akan pergi keluar kota, kalian baik-baik di rumah ya, jangan nakal sama Dea. Nanti kalau Dea rewel mama kalian juga yang repot”, kataku di sela-sela sarapan.

“Emangnya Papa mau kemana sih? Besok kan libur Pa, terus kapan Nina beli baju barunya? Teman-teman Nina sudah pada beli lho pa, bagus-bagus. Masa sih Nina kalah sama mereka Pa”, jawab anak sulung Warmidinata dengan polosnya. Sakit hatinya mendengar permintaan itu, sifat yang mestinya tidak Arini wariskan pada kedua anak mereka.

“Iya lho Pa. Padahal orang tua teman Nina kan tidak ada yang kerja kayak Papa. Oh ya Pa, sekarang di Jti Apit Mall lagi banjir diskon lho. Kemarin saja tetangga sebelah kita mborong, keren-keren Pa”, tambah istrinya.

“Iya-iya. Nanti kalau urusan Papa sudah selesai, kita pergi belanja”, Warmidinata mencoba menghibur mereka. Setelah Warmidinata menyakinkan mereka, akhirnya keluargapun mempercayai, walau sebenarnya besokpun Warmidinata tidak ada tugas dari perusahaan, tempatnya mencari nafkah keluarga dulu, sesuatu yang membuat keluarganya pongah.

Ya Tuhan, inikah cobaan-Mu, hatinya mengiba.

Sudut kota masih terlihat lengang, lalu lalang kendaran belum begitu terlihat, maklum libur nasional, hari buruh sedunia. Dengan pakaian resmi kantoran Warmidinata pergi meninggalkan mereka, keluarga tercinta. Entah sampai kapan ia akan terus berlari, terus menghindar kenyataan dunia, demi cinta dan sayangnya pada keluarga.

“Ma, Papa pergi dulu yah. Nanti kalau sudah sampai di sana Papa kabari, kalian jaga diri baik-baik ya. Papa akan segera kembali setelah urusannya selesai”, ucapan terakhirku pada mereka.

Whus, udara pagi langsung menyalami Warmidinata ketika pintu terbuka. Kutilang masih asyik dengan iramanya, menari menemani kepergian sang juragan, entah lara ataukah bahagia.

*****

Rembulan terlihat riang di jidat langit, ia asyik bermain awan dengan ribuan bintang, maha kuasa Dia yang telah menciptakan alam semesta, bukti keagungan-Nya bagi mereka yang memanfaatkan alam pikiran.

“Ma, Papa pergi kemana sih, kok belum pulang-pulang juga. Besok teman-teman ade ngajak pergi belanja” kata Rina memanja, adik Nina.

“Iya nih Ma, kapan sih Papa pulang” Ujar Nina ikut-ikutan.

“Emang kalian saja apa yang menanti Papa pulang, mama juga. Lihat nih daftar kebutuhan kita buat lebaran, mau dibeli pakai apa, kertas? Kemarin kata Papa kalau sudah sampai mau ngubungin kita, tapi nyatanya, sudah dua hari Papa kalian pergi, belum juga ada kabar”, kata Arini.

“Mungkin Papa kalian sangat sibuk, nanti juga pulang kok”, sang Mama menenangkan.

Televisi masih terus membodohi pemirsa dengan programnya, mencekok hidung pemirsa, termasuk keluarga Arini.

“Nin, udah malam. Cepat ajak adikmu tidur sana, nanti kesiangan lagi”, Arini coba mengingatkan.

“Iya Ma, nanti sebentar lagi, ade belum ngantuk kok” jawab Rina.

“Iya nih, nanggung Ma. Nanti kalau acaranya selesai kita tidur kok. Iya kan Rin?”, tambah sang kakak.

“Setuju!” Rina kegirangan.

“Ya Sudah, Mama kedalam dulu. Mama mau manemani Dea. Jangan lupa nanti dimatikan ya pesawatnya”, balas Arini.

Jalan kota mulai lengang, malam minggupun berlalu sudah. Akhir pekan yang suram bagi Nina dan Rina, tanpa acara. Dari balik kamar, sambil menemani Dea, sang bungsu, Arini mendengar kedua anaknya sudah masuk kamar. Pikirannya kalut. Dia mulai berpikir macam-macam tentang apa yang sebenarnya sedang dialami sang suami. Tidak seperti biasa ketika sang suami pergi, paling tidak sehari sekali memberi kabar. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, Arini hanya mengira sang suami tidak bisa menghubungi lantaran sibuk.

Tidak! Mana mungkin Papa berubah. Warmidinata masih sayang padaku, apalagi anak-anak. Tapi kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi? Atau jangan-jangan terjadi sesuatu padanya? Ah, besok pagi aku harus mencari tahu, setidaknya lewat perusahaan. Isak hatinya.

Sinar mentari sejuk menyapu taman kota, menyegarkan. Langit nampak cerah, secerah raut bayi yang terlahir tanpa dosa. Surya kian merangkak, menemani Arini menghibur ketiga buah hatinya, keluarga yang sedang dirundung gulita.

Setelah pihak perusahaan memberikan konfirmasi bahwa suaminya sudah lama tidak bekerja di sana, satu bulan yang lalu. Arini siang itu mondar mandir kesana kemari, mencoba mencari kabar tentang Warmidinata, suaminya. Dia panik, bingung, tidak tahu harus kemana lagi. Semua relasi suaminya telah dihubungi, namun tetap tidak ada sebuah petunjuk. Hanya satu hal yang ia tahu, suaminya kena PHK (putus hubungan kerja) sebulan yang lalu.

Siang yang melelahkanpun berlalu, meninggalkan setumpuk pertanyaan buat Arini, kemana sang suami pergi, bekerja dimana setelah keluar dari perusahaan, ataukah…, terbayang kejadian-kejadian yang dia rasa dulu sangat menekan sang suami, kejadian yang dipenuhi ego, ego seorang istri yang tidak tahu terima kasih. Apalagi kalau suaminya di PHK sebulan lalu, ah, waktu kedua anaknya berulang tahun. Dari manakah dia memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhan pesta. Arini masih ingat bagaimana raut Warmidinata sangat dirinya meminta mengadakan pesta, ekspresi terpaksa yang menyetujuinya.

Apalagi bila ia ingat bagaimana dulu, ketika keluarganya ‘pasang harga’ saat Warmidinata melamar dirinya. Harga yang memang lewat persetujuan Arini, gadis impian lelaki. Ia sadar, berkat anugerah wajah yang rupawan, sang suami amat sangat mencintainya. Malam itu ia merasa sudah terlalu manja, sudah waktunya dia sadar akan keberadaanya sebagai seorang istri dan ibu bagi ketiga anaknya. Arini merasa berdosa. “Pa, Papa dimana. Maafkan Mama ya Pa”, sambil menimang Dea hati Arini berbisik.

Ia sengaja menyembunyikan ihwal itu pada keluarga, Arini masih mengharap ayah ketiga anaknya hadir di hari lebaran nanti, dua hari lagi. Ia tidak tahu harus jawab apa bila nanti sang ayah tidak pulang. Apalagi kemarin dia sudah berbohong demi ketenangan anak-anaknya, ia bilang kalau Papa mereka akan pulang malam takbiran sambil membawa semua kebutuhan, makanan dan pakaian.

Malampun berlalu, menyongsong lebaran di lusa waktu, tinggalkan Arini yang kian bingung tak menentu.

*******

Mendung masih nampak diujung kota, menganga. Sedang sisa hujan nampak berdesakan di kubangan jalan raya menghindari tindasan roda-roda karet baja. Sayup-sayup gema takbir menggelitik gendang telinga. Lebaran telah tiba.

Di ujung-ujung jalan nampak kambing terikat, putih dan gagah. Sementara anak-anak kesana kemari mengitari sudut sekolah, tertawa dan bercanda, mencoba memaknai arti idul adha, walau mereka tak sepenuhnya bisa. Seperti mereka yang tak mampu menggapai dunia, terhanti di persimpangan kehidupan, tenggelam di kubangan jalan setapak, jalan rimbun penuh sorak sorai penguasa. Memilukan.

Di balik beton pecah yang ujungnya masih terlihat cerah, entah siapa dan apa yang mampu membelahnya, dengan tatapan kosong penuh kesah, Warmidinata seorang diri menikmati gaung takbir dari istana barunya, istana pengobat rindu dan lara. Entah sampai kapan ia menjadi raja. Ketika semua petuahnya berbuah tindakan. Saat kata-katanya lepas dari jeruji keangkuhan, ketika dia merdeka. Merdeka sebagai seorang ayah, merdeka menjadi kepala keluarga.

Takbir mulai mengerucut, menciut, hingga kini tak ada lagi getara-getaran hati, takbir menghilang dalam kegelapan. Malam sudah larut, penakbir terbius mimpi yang merajut.

Namun tidak dengan Warmidinata, dengan sebilah pisau yang runcing dia mulai menghias tembok.

Maafkan saya Ma. Nina, Rani, Dea, maafkan Papa nak, Papa tidak lagi bisa berbuat apa-apa. Papa meninggalkan kalian dalam keterlantaran, itupun menurut kalian. Andai kalian merasakan kehidupan yang lain, mungkin kalian akan sangat bersyukur dengan apa yang telah Papa berikan. Tapi…, sudahlah. Sungguh, bukan hati Papa tak lagi mencinta. Semua demi kalian, demi senyum mereka, seyum Mama, satu-satunya wanita yang Papa cinta.

Nak, mungkin kalian tidak akan bertemu Papa jika membaca goresan ini, itupun kalau kalian punya kesempatan. Atau mungkin ada orang yang membacakannya untuk kalian, mudah-mudahan.

Anak-anakku sayang, jaga Mama kalian baik-baik. Patuhilah perintahnya. Tapi ingat satu hal, jika kalian sudah dewasa, ketika mampu menyaring benar dan salah, pikirkan kembali apa yang telah kalian biasakan selama ini, karena kebiasaan yang tidak biasa mungkin terkesan biasa-biasa saja.

Izinkan Papa pergi jauh, dan entah dimanakah Papa akan sampai. Kalau kemarin Papa dengar di pengajian Papa akan singgah di neraka jahannam. Entah benar atau tidak. Kalian tahu kan, keluarga kita jauh dari agama, jauh dari ketenangan jiwa. Apalagi Papa, waktu Papa habis mencari harta dan tahta, demi kalian. Kalian yang tak pernah mengerti posisi Papa, kalian yang selalu meminta.

Ma, mungkin jalan inilah yang pantas Papa tempuh. Setelah dua bulan Papa di PHK, kini Papa bingung mau kerja apa. Tempat Papa yang sekarang juga bangkrut Ma. Usaha yang andai kalian tahu, pastilah kalian merasa terhina, pekerjaan apa adanya dari seorang Warmidinata. Ma, semoga Mama mau berubah dan merubah mereka. Tolong, jangan jadikan mereka seperti Mama.

Ma, Ku doakan Mama dapat Papa baru yang jauh lebih baik dari Papa. Selamat tinggal.

Kehidupan kembali hidup ketika takbir kembali mengguncang Toa tua, hari yang bahagia, idul adha. Setidaknya bagi mereka yang hari ini berhari raya, menanti secuil daging domba dengan canda dan tawa.

Beton itu kini berubah warna, berlapis kentalan warna merah, membalut lingkaran lengan Warmidinata. Ia terlihat pulas, entah kapan ia akan terjaga. Mungkin, ketika keluarganya telah usai beridul adha.

Takbiran, 1429 H.
Oleh : Alfa RS

Tags: ,

1 Response for “Maaf, Papa Kena PHK”

  1. Very good reading! I agree with a lot of your unique views. It’s about time someone wrote information like this in a clear, understandable style. Thank you for your insight.

Leave a Reply

WordPress Themes