Orang Tua
Suatu sore, dalam perjalanan dengan travel dari Jakarta ke Bandung, duduk di sebelah saya seorang wanita muda dengan pakaian yang kurang bahan. Hanya sekitar 10% bagian teratas pahanya yang tertutupi. Itu menjadi perjalanan paling canggung yang pernah saya lalui. Dalam cuaca yang redup, jalanan yang mulus, idealnya saya bisa istirahat. Nyatanya saya merasa “terganggu”. Pertama, jelas karena celananya itu yang membuat saya ingin melek terus. Ke dua, sepanjang dua setengah jam perjalanan, dia hampir tidak berhenti bicara di telfon. Kelihatannya ada beberapa orang yang dia telfon dan yang menelfon dia.
Di tengah obrolannya, ada satu dialog yang menarik. “Kamu tinggal minta apa aja sama kakak, asal sekolah kamu bener. Tapi kalau sekolah kamu enggak bener, kakak enggak mau.”
Saya kenal betul logat bicaranya. “Wanita ini pasti orang sekampung saya”, gumam saya dalam hati. Saya terus terang enggan bertanya. Memasuki daerah Pasteur, wanita itu bilang ke supir travel, “Pak, saya mau turun di hotel anu ya.” Su’udzon saya mulai timbul. Tetapi saya bisa maklum.
Di kampung, saya juga mengenal seorang yang profesinya “mengambil dan menjual” barang orang tanpa permisi (duh, repot amat mau bilang: maling!). Kebiasaan lain dia adalah “minum”. Bahkan pernah ketahuan dia mengkonsumsi “pil merah”. Dia punya anak kecil, sekitar empat atau lima tahun usianya. Suatu hari, anaknya yang masih imut-imut itu kepergok mengambil uang ibu saya. Tidak besar, hanya bisa untuk beli sepotong-dua potong jajanan kampung. Tetapi si ayah tadi marah bukan main. “Jangan ulangi lagi ya, ngambil duit orang!”, sambil “melempar” anaknya itu di tanah berlumpur, di tengah guyuran hujan. Miris melihatnya. Ibu saya kemudian melerai.
Saya bahkan pernah menyaksikan pemandangan yang mengharukan. Kalau orang biasa mengaku “hidup pas-pasan”, keluarga itu barangkali tidak seberuntung mereka yang hidup pas-pasan: mereka hidup serba kekurangan. Nasi aking adalah makanan yang biasa mereka santap. Menir juga. Sewaktu kecil hingga remaja, anak mereka sering membantu ibunya untuk “metani” batu-batu dan ulat-ulat yang ada di menir. Maklum, menir itu merupakan hasil “tapenan” dari dedak yang dibeli untuk makanan bebek. Keluarga itu memelihara bebek beberapa puluh ekor. Itulah satu-satunya mata pencaharian kepala keluarga mereka.
Dari 12 bulan kalender tiap tahun, barangkali hanya 2 – 3 bulan saja keluarga itu bisa makan nasi putih, sesaat setelah musim panen. Selebihnya; menir atau nasi aking. Tahukah kawan, apa lauknya? Garam tak beriodium!!
Dalam kondisi seperti itu, orang tua mereka masih memberikan dukungan kepada anaknya untuk melanjutkan sekolah ke SMP, meskipun dengan sedikit terpaksa. Dukungan itu berlanjut hingga SMA dan kuliah. Kini, anaknya sudah sarjana dan bekerja di sebuah perusahaan terkemuka.
Pelajaran penting yang bisa saya petik: apa pun kondisi orang tua, semiskin apa pun nasib mereka, sebejat apa pun profesinya, mereka pada dasarnya menyimpan harapan terselubung agar anaknya bisa lebih baik, tidak mengikuti jejak keterpurukan yang mereka alami. Inilah fitrah mereka. Meskipun bisa jadi ada beberapa orang tua yang menjadi pengecualian.
…..punten…..sadulur.
Ya…ya…memperhatikan dua paragrap terakhir….ini mungkin yang harus menjadi bahan motivasi buat kalian yang masih muda-muda.
Membaca cerita di atas….kok ya tersentuh saya, pasalnya saya ini dibesarkan dari serba keterbatasan. Bahkan sampai saat ini usia saya sudah menjelang senja rumah bilik di kampung halaman sejak aku masih kecil…ya masih kayak gitu…mungkin kalau enda di sangga dengan tiang kayu tambahan kayaknya bisa roboh….tapi masalahnya ya karena keterbatasan. Tapi jangan heran lho…dari pekarangan itu setidaknya menelorkan 3 sarjana (ya walaupun bukan dari sekolahan unggulan)……dan motivasinya saat ini kepada anak-anak bahwa pendidikan itu menjadi penting.
’76 saya berkesempatan masuk SMP N 1 Karangampel..lulus SMP (1978). mau lanjut ke SLA, OT ga ada uang. ’79 masuk sekolah kejuran di JKT, lokasi di jalan BOEDUT. lulus sekolah selang 17 hari rupaya Ijazahku laku…masuklah aku di pns….dan mungkin saat ini hanya ada 2 atau 3 orang saja yg bekerja di lembaga penelitian itu, yg kelahiran indramayu.
Saat ini mungkin alumni S1 berbondong-bondong u/ dpt diterima sebagai pe-en-es yg memiliki peminatan sebagai pe-ne-li-ti, itupun barangkali hanya 0,01% dari 150 ribu yg registrasi secara online. Kayaknya di Indonesia barangkali hanya satu-satu institusi pemerintah yg menerapkan sistem rekruitmen pegawai baru dgn sistem transparansi…….silahkan bandingkan dengan institusi lain.
Apa sebenarnya yg menjadi inspirasi. Keberhasilan seseorang sebenarnya bukan dari keturuan..apakah karena asset orangtua yang berkecukupan itu menjamin…kayaknya juga tidak…tetapi kalau ide-ide orang tuanya sinkron ketika nasehatnya didengar oleh anak-anaknya, mungkin akan mencapai sebuah keberhasilan.
Kemauan keras, ulet…mau belajar…mau bergaul dengan komunitas lingkungan yang baik…berpotensi mendorong sesorang akan mencapai kesuksesan di masa depan.
Kalau kita kembali…bagaimana kita dibesarkan jelas bagaimana orangtua kita dulu memberi nafkah kepada kita…kayaknya kalau sumber rejekinya diperoleh dari hal-hal yang gak beras…ujung-ujungnya akan berdampak buruk pada orang yang kita sayangi.
Saya secara pribadi sangat sedih melihat teman-teman kecil dulu waktu masih main karet/kelereng, bon-bonan…mandi di kali yang dulu reang bareng pergi kemana-mana. Dia memang pada umumnya berhasil menghimpun aset (dunya)….tapi hatinya sedih….lantaran anak yang dicintainya….punya hobby berkeliran di jalan….masuk lumbung pada seperti tikus, membuat diplikasi ucapan yg tidak sesuai dgn kepribadian……banyak tuh ragamnya….belum lagi ibunya seorang Hajah yang suka merokok dan main dank-dutan…, belum lagi yang lahan sawah…padi penggilingan dan berkecukupan. Yang kalau hajatan….sandiwara–organ tunggal menjadi kebanggaan.
Kalau pada kasus di atas, ya memang kita cukup perhatian…ada memang sebagian kecil masyarakat yang kondisinya dalam kesusahan…dan wajar kalau dia mengambil hak orang lain”….karena apa…orang lain di sekitar lingkungannya itu yang tak tahu diri., seharusnya kan saling bantu…mestinya tidak begitu.
Kalau saja, anda berkesempatan masuk di kampung saya…cari pemilik sandiwara Indra Putra…atau bertanya kepada salah satu pensiunan kepala SD…dia akan bercerita banyak……dan dia tahu persis bagaimana kehidupan saya ketika masih duduk di bangku SD, atau dengan teman-teman saya alumni SMP……bayangkan punya sepatu namanya sepatu bigbos..tuh kaya sepatu karate…yang waktu itu harganya cuma Rp 1.900,- kalau sehabis pulang sekolah…kebiasaan saya langsung di jemur di atas pawon…….ya karena cuma ada satu-satunya. Itulah barangkali yg menjadi prihatin dimasa kecil…..tapi alhamdullilah dalam perjalanan hidup……saya berkesempatan turut ambil bagian dalam pembinaan masyarakat termarjinalkan.
Banyak tuh kenangan karena hampir 5 tahun saya mondar-mandir ke lokasi binaan di beberapa desa di Bengkulu, masuk ke kelompok transmigrasi, masuk ke orang-orang dusun…masuk ke pengarajin usaha tahu-tempe….masuk ke masyarakat transmigran swakarsa dalam satu dusun. Yang dimaksud masyarakat trans. swakarsa sekolompok masyarakat menempati permukiman yang dibolahkan oleh pemda u/ menetap disana. Jangan heran lho…mereka itu kelompok masyarakat yang asal di kampungnya ada dua opsi yaitu wirang atau kurang. kalau wirang umumnya dia seorang pelarian yang di daerah asalnya melakukan pekerjaan yg tak terpuji. Kalai kurang…kan memang karena mereka tidak punya pekerjaan tetap….biasanya mereka mudah dimotivasi.
Ada yg unit…dari binaan itu…..saya juga sempat motivasi salah satu dari mereka….agar anaknya masuk perguruan tinggi…Alhamdullillah akhirnya bapaknya sempat juga menghadiri anaknya ketika diwisuda, yang lucunya cuma pake sandal jepit.
Kalau di kampung halaman saya…kebetulan, anak paman saya berhasil anaknya kuliah di IPB dan kayaknya saat ini sebagai pengembang matrikulasi pendidikan di kap. indramayu. Bagaimana dengan kondisi orangtuanya. Orangtuanya cuma seorang tukang beca…namun ketika anaknya kuliah, dia jual buah-buahan, yang bermodalkan kurang dari Rp 200.000, di tahun ’90-an, itu setiap munggunya dia harus menyediakan uang u/ anaknya yg mendpt program beasiswa. Kayaknya, salah satu anak dari teman saya juga cukup berhasil, ambil di UNPAD…bapaknya cuma seorang supir taxi, pendidikannya juga cuma kelas 4 SD….Ketika anaknya lulus dari SMU…..saya cuma menyarankankan kepada beliau…sebaiknya biarkan apa keiinginan dan cita-citanya itu ikuti saja…….nyatanya juga berhasil…kayaknya sekarang sudah bekerja di perusahaan perminyakan di LN…tuh.
Nah….saya pikir sudah sewajarnya buat kita-kita yg saat ini melek IT….u/ berbagi pengetahuan mungkin kepada adik-adik kita…atau tetangga saudara…bahwa dunia pendidikan…adalah bagian pewarisan buat generasi yang memiliki nilai….
Wassalam
net_buntu@yahoo.co.id “buat hal yang buntu-buntu”